RSS

SUARA MAHASISWA “MENCEGAH LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATI”

25 Apr

Tuesday, 26 April 2011

“Jauh lebih banyak hasil yang dicapai bagi kesejahteraan dan kemajuan umat manusia dengan mencegah perbuatan-perbuatan yang jahat daripada melakukan perbuatan- perbuatan yang baik”.

Hal tersebut adalah ungkapan William Lyn Mackenzie King yang sangat terkenal. Makna terdalam dari ungkapan tersebut adalah upaya preventif itu lebih bermanfaat dan luar biasa dalam memberantas sebuah kejahatan dibanding upaya represif. Terorisme merupakan kejahatan model baru dan kejahatan yang luar biasa. Indonesia merupakan negara yang baru mengenal terorisme.Hal tersebut dapat dilihat pada tragedi Bom Bali I.Pada saat Megawati menjabat sebagai presiden, saat itu tidak ada yang mengatur secara rigid mengenai tindak pidana terorisme di Indonesia.

Dalam keadaan yang genting dan memaksa tersebut, Megawati akhirnya mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu). Salah satu perppu yang dikeluarkan mengatur pemberlakuan retroaktif perppu satunya.Intinya untuk menjerat Amrozi dkk diperlukan hukum yang berlaku surut. Dalam terorisme dikenal adanya siklus vendetta, maknanya adalah di mana sudah terdapat sistem dalam tindak pidana terorisme yang menciptakan tindak pidana terorisme sangat sulit untuk diberantas.

Oleh karena itu,untuk menciptakan pemberantasan tindak pidana terorisme perlu dilakukan upaya pemberantasan siklus vendetta tersebut. Cara yang paling tepat dan strategis adalah meningkatkan upaya pemberantasan tindak pidana terorisme yang luar biasa. Undang-Undang No 15 Tahun 2003 telah mengatur secara khusus upaya pemberantasan tindak pidana terorisme. Di dalam undang-undang tersebut terdapat 19 perbuatan terorisme yang diatur.

Untuk memberantas tindak pidana terorisme tersebut telah diatur hukum formal secara khusus seperti penahanan yang lamanya 7 x 24 jam.Berbeda dengan penahanan secara umum yang hanya selama 1 x 24 jam.Dalam UU tersebut juga diatur beberapa hal khusus seperti lamanya penahanan baik dalam penyidikan maupun penuntutan. Upaya pencegahan yang baik dan tepat adalah meningkatkan efektivitas konsep keamanan nasional.

Indonesia hingga saat ini belum memiliki undang-undang keamanan nasional sehingga berakibat tidak dibentuknya beberapa undang-undang pelaksanaan keamanan nasional seperti Undang-Undang Intelijen yang sampai saat ini hanya berbentuk RUU. Dalam hal ini secara nyata pembentukan UU Intelijen diharapkan dapat memberikan pemberantasan terhadap siklus vendetta dalam tindak pidana terorisme yang ada di Indonesia.

Sebagai lini pertama dalam sistem keamanan nasional (Pasal 3 RUU Intelijen),RUU ini ternyata tetap mendorong intelijen untuk menggunakan cara-cara represif yang kemudian dilegalkan semisal pemeriksaan intensif 7×24 jam tanpa ada pemberitahuan terhadap keluarga (Pasal 15 ayat 3 DIM).

Ini artinya,agen intelijen yang ada tidak dirangsang untuk kreatif dalam mengumpulkan informasi mencegah adanya pendadakan strategis. Oleh karena itu, perlu penggodokan yang matang mengenai RUU Intelijen untuk menciptakan pencegahan-pencegahan pada tindak pidana terorisme khususnya.●

MUHAMMAD FATAHILLAH AKBAR

Mahasiswa Fakultas Hukum

Universitas Gadjah Mada

masuk sindo dapat dilihat di http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/394998/

bisa dibaca di edisi cetak hari Selasa, 26 April 2011

TULISAN dibuat dalam detik2 hapusnya status mahasiswa

ayo semangat menulis,,

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on April 25, 2011 in Hukum

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: